Rabu, 16 April 2014





LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOLOGI II
SKRINING HIPOKRATIK


 

 


DISUSUN OLEH :
KELOMPOK V
GINTA RIO MARANTI (1201035)

YAYASAN UNIVERSITAS RIAU
SEKOLAH TINGGI ILMU FARMASI RIAU
PEKANBARU
2014


SKRINING HIPOKRATIK
I.                   Tujuan Praktikum
Adapun tujuan dari praktikum ini adalah :
1.      Memahami dan terampil melakukan skrining farmakodinamik obat menggunakan teknik skrining hipokratik.
2.      Memahami dan mampu menganalisa hasil-hasil skrining farmakologi obat.

II.                Landasan Teori
Skrining hipokratik adalah salah satu cara untuk menapis aktivitas suatu obat atau bahan obat yang belum diketahui sebelumnya, baik yang berasal dari alam maupun semisintetis. Dasar dari metode ini yaitu, bahwa bila obat berinteraksi dengan materi biologis dalam tubuh akan menghasilkan efek tertentu, tergantung pada dosis yang diberikan.
Berikut adalah beberapa aktivitas/ profil farmakodinamik yang akan diuji dalam skrining hipokratik :
1.       Simpatolitik
Simpatolitika atau adrenolitika adalah zat-zat yang melawan sebagian atau seluruh aktivitas susunan saraf simpatis. Efeknya melawan efek yang ditimbulkan oleh simpatomimetika.
2.       Analgetik
Anlagetika atau obat penghalang nyeri adalah zat-zat yang mengurangi atau menghalau rasa nyeri tanpa menghilangkan kesadaran.
3.       Vasodilator
Vasodilator didefinisikan sebagai zat-zat yang berkhasiat melebarkan pembuluh darah secara langsung.

4.       Vasokonstriktor
Efek yang ditimbulkan berlawanan dengan vasodilator.
5.      Parasimpatomimetik
Parasimpatomimetika atau kolinergika adalah sekelompok zat yang dapat menimbulkan efek yang sama dengan stimulasi susunan parasimpatis, karena melepaskan neurohormon asetilkolin di ujung-ujung neuronnya. Efek-efek yang muncul setelah pemberian kolinergika adalah:
·         Stimulasi pencernaan dengan jalan memperkuat peristaltik dan sekresi kelenjar ludah dan getah lambung(HCl), juga sekresi air mata, dll.
·         Memperlambat sirkulasi, antara lain dengan mengurangi kegiatan jantung, vasodilatasi, dan penurunan tekanan darah.
·         Memperlambat pernapasan, antara lain dengan menciutkan bronchi, sedangkan sekresi dahak diperbesar.
·         Kontraksi otot mata dengan efek penyempitan pupil (miosis) dan menurunnya tekanan intraokuler akibat lancarnya pengeluaran air mata.
·         Kontraksi kandung kemih dan ureter dengan efek memperlancar pengeluaran urin.
·         Dilatasi pembuluh dan kontraksi otot kerangka.
·         Menekan SSP setelah pada permulaan menstimulasinya.
·          
6.       Simpatomimetik
Simpatomimetika atau adrenergika adalah zat-zat yang dapat menimbulkan (sebagian) efek yang sama dengan stimulasi susunan sipaticus dan melepaskan noradrenalin di ujung-ujung sarafnya. Efek-efek yang ditimbulkan adalah:
·         Vasokonstriksi otot polos dan menstimulsi sel-sel kelenjar dengan bertambahnya antar lain sekresi liur dan keringat.
·         Menurunkan peristaltik usus.
·         Memperkuat daya dan frekuensi kontraksi jantung.
·         Bronkodilatasi dan stimulasi metabolisme glikogen dan lemak.

7.      CNS Depressant
Zat-zat yang dapat menekan SSP. Efek yang ditimbulkan berlawanan dengan CNS activation. Misal pada tikus, efek yang ditimbulkan antara lain:
·         Aktivitas motorik menurun
·         Laju pernapasan menurun
·         Hilang refleks pinal
·         Paralisa kaki
·         Hilang daya cengkeram

8.      Muscle Relaxant
Efek yang ditimbulkan mirip dengan CNS depressant.

9.      CNS Activation
Zat-zat yang dapat merangsang SSP. Efek-efek yang ditimbulkan adalah:
·         Konvulsi.
·         Meningkatkan laju pernapasan.
Misal pada tikus, efek yang diitmbulkan antara lain:
·         Aktivitas motorik meningkat
·         Temperatur rektum naik
·         Rasa ingin tahu meningkat

Skrining ini dapat membedakan suatu bahan/obat yang berguna dan tidak berguna dengan cepat dan biaya yang relative murah. Dari sini akan dihasilkan profil farmakodinamik obat/bahan.
Prinsip dasar penapisan atau skrining farmakologi ini ialah mencari persen aktivitas yang terjadi pada setiap kelompok efek–efek tersebut, kemudian dapat ditarik kesimpulan berdasarkan persen aktivitas yang paling besar. Semakin besar persen aktivitas pada suatu efek maka zat atau obat uji semakin mempunyai kecenderungan berasal dari kelompok efek tersebut.
Uji ini merupakan tahap awal penelitian farmakologi atau zat-zat yang belum diketahui efeknya serta untuk mengetahui apakah obat tersebut memiliki efek fisiologis atau tidak sehingga disebut sebagai penapisan hipokratik (penapisan awal). Penapisan ini masih merupakan prediksi.
Penelitian ini menggunakan metode penapisan hipokratik yang dipertajam dengan uji-uji spesifik diantaranya seperti uji viskositas, uji aktivitas motorik, uji perpanjangan waktu tidur, uji anti konvulsi dan uji efek hipotensi.
Penapisan atau skrining farmakologi dilakukan untuk mengetahui aktivitas farmakologi suatu zat yang belum diketahui efeknya. Hal ini dilakukan dengan melihat gejala-gejala yang timbul pada hewan coba setelah diberi zat uji. Zat atau obat yang disediakan dalam praktikum ini antara lain yang memberikan efek depresan SSP, perangsang SSP, simpatomimetik, parasimpatomimetik, simpatolitik, muscle relaxant, analgesik, vasokonstriktor, dan vasodilator. Pada percobaan ini akan dilakukan evaluasi dan pengelompokan efek-efek yang timbul pada hewan uji (tikus) berdasarkan efek yang dapat ditimbulkan oleh zat atau obat tersebut








III.             Alat dan Bahan
-          Alat yang digunakan selama praktikum ini berlangsung, yaitu :
Ø  Alat suntik
Ø  Stopwatch
Ø  Hotplate
Ø  Rotating Road
Ø  Thermometer
Ø  Platform
Ø  Pinset

-          Bahan-bahan yang digunakan selama praktikum adalah :
Ø  Mencit
Ø  Obat

IV.             Cara Kerja
1.      Timbang mencit, hitung dosis yang akan diberikan.
2.      Amati parameter-parameter yang telah ditentukan.
3.      Evaluasi hasil pengamatan!
4.      Kumpulkan nilai parameter-parameter yang relevan untuk aktivitas tertentu.
5.      Rangking % respon aktivitas yang didapat menurut dosis dan katagori aktivitas.
6.      Bahaslah hasilnya dan buatlah beberapa kemungkinan kategori aktivitas senyawa yang diuji sebagai kesimpulan.







V.                Hasil dan Pembahasan
-          Hasil :
Perhitungan Dosis
BB Mencit : 19 gr = 0,019 kg
Dosis : 3 mg/kgBB
VAO : 0,19 ml
Konsentrasi obat : 0,3 mg/ml

VAO   =     Berat (kg) x Dosis (mg/KgBB)
                                     Konsentrasi (mg/ml)

            =     0,19 kg x 3 mg/KgBB
                   0,3 mg/ml
            =    0,19 ml

Parameter
Nilai (1-3) atau terukur pada waktu
K
5’
10’
15’
30’
60’
120’
Kelopak mata turun
0
0
0
0
0
0
0
Bulu berdiri
0,5
0,5
0,5
0,5
0,5
0
0
Ekor berdiri
0
0
0
0
0
0
0
Bola mata menonjol
1,5
1,5
1,5
1,5
1,5
1,5
1,5
Ekor memerah
1
0
0
0
0
0
0
Telinga memerah
1
0
0
0
0
0
0
Ekor pucat
0
2
2
2
2
2
2
Fasikulasi
0
0
0
0
0
0
0
Tremor
0
1
0
0
0
0
0
Aktiv.meotorik meningkat
0
1
0
0
0
0
0
Aktiv.motorik menurun
0
0
1
1
1
1
1
Respirasi meningkat
0
0
0
0
0
0
0
Respirasi menurun
0
2
2
2
2
2
2
Gerak berputar
1
0
0
0
0
0
0
Ekor bergelombang
0
0
0
0
0
0
0
Agresif
1
1
0
0
0
0
0
Rasa ingin tahu meningkat
0
1
1
1
0
0
0
Rasa ingin tahu menurun
0
1
1
1
0
0
0
Refleks kornea hilang
0
0
0
0
0
0
0
Refleks telinga hilang
0
0
0
0
0
0
0
Refleks balik hilang
0
0
0
0
0
0
0
Salivasi
0
0
0
0
0
0
0
Lakrimasi meningkat
0
0
0
0
0
0
0
Lakrimasi menurun
0
0
0
0
0
0
0
Air mata berdarah
0
0
0
0
0
0
0
Paralisa kaki
0
0
0
0
0
0
0
Tremor
0
1
0
0
0
0
0
Konvulsi
0
0
0
0
0
0
0
Urinasi
2
2
0
0
0
0
0
Diare
1
0
1
1
0
0
0
Temperatur rektum
0
0
0
0
0
2
0
Temperatur rektum
0
1
1
1
1
0
1
Jatuh dari rotaroad
1
1
1
1
1
1
1
Katalepsi
0
0
0
0
0
0
0
Tonus tubuh menurun
0
0
0
0
0
0
0
Reaksi plat panas
0
0
0
0
0
0
0
Reaksi jepit ekor
0
0
0
0
0
0
0
Menggeliat
0
0
0
0
0
0
0
Pandangan tak lurus
0
0
0
0
0
0
0
Pupil mengecil
0
0
0
0
0
0
0
Pupil melebar
0
0
0
0
0
0
0
Ekor naik
0
0
0
0
0
0
0

Berikut adalah beberapa kemungkinan kategori aktivitas senyawa yang diuji
1.      PENSTIMULASI SISTEM SARAF PUSAT
Parameter
5’
10’
15’
30’
60’
120’
Skor Total
Skor Maksimum
Kelopak mata ↓
0
0
0
0
0
0
0
0
Respirasi ↓
2
2
2
2
2
2
12
24
Rasa ingin tahu ↓
0
0
0
1
1
1
3
6
Reflex kornea hilang
0
0
0
0
0
0
0
0
Reflex telinga hilang
0
0
0
0
0
0
0
0
Paralisa kaki
0
0
0
0
0
0
0
0
Temperature rectum ↓
1
1
1
1
0
1
5
6
Jatuh dari rotaroad
1
1
1
1
1
1
6
6
Katalepsi
0
0
0
0
0
0
0
0
Tonus tubuh ↓
0
0
0
0
0
0
0
0
Reaksi plat panas ↓
0
0
0
0
0
0
0
0
Reaksi jepit ekor ↓
0
0
0
0
0
0
    0
0
Pandangan tak lurus
0
0
0
0
0
0
0
0
Pupil mengecil
0
0
0
0
0
0
0
0
Aktiv. Motorik menurun
0
1
1
1
1
1
5
6
Refleks balik hilang
0
0
0
0
0
0
0
0


SBT = 31

SMT = 48

% EFEK PENEKANAN SISTEM SARAF PUSAT = SBT/SMT X 100%
                                                                     = 31/48 X 100 % = 65 %

II. RELAKSASI OTOT
Parameter
5’
10’
15’
30’
60’
120’
Skor Total
Skor Maksimum
Kelopak mata ↓
0
0
0
0
0
0
0
0
Aktiv. Motorik menurun
0
1
1
1
1
1
5
6
Respirasi ↓
2
2
2
2
2
2
12
24
Rasa ingin tahu ↓
0
0
0
1
1
1
3
6
Reflex telinga hilang
0
0
0
0
0
0
0
0
Paralisa kaki
0
0
0
0
0
0
0
0
Jatuh dari rotaroad
1
1
1
1
1
1
6
6
Tonus tubuh ↓
0
0
0
0
0
0
0
0
Reaksi plat panas ↓
0
0
0
0
0
0
0
0
Reaksi jepit ekor ↓
0
0
0
0
0
0
0
0
Menggeliat
0
0
0
0
0
0
0
0


SBT = 26
SMT = 42
% EFEK RELAKSASI OTOT = SBT/SMT X 100%
                                         = 26/42X 100% = 62%
III. SIMPATOMIMETIK
Parameter
5’
10’
15’
30’
60

120’
Skor total
Skor maksimal
Bola mata menonjol
1,5
1,5
1,5
1,5
1,5
1,5
9
13,5
Bulu berdiri
0,5
0,5
0,5
0,5
0
0
2
1,5
Lakrimasi ↓
0
0
0
0
0
0
0
0
Konvulsi
0
0
0
0
0
0
0
0
Temperature rectum ↑
0
0
0
0
2
0
2
12
Pupil melebar
0
0
0
0
0
0
0
0


SBT = 13
SMT=27
% EFEK SIMPATOMIMETIK = SBT/SMT X 100%
                                            = 13/27X 100% = 48,14%
IV. PARASIMPATOMIMETIK
Paremeter
5’
10’
15’
30’
60’

120’
Skor total
Skor
maksimal
Bulu berdiri
0,5
0,5
0,5
0,5
0

0
2
1,5
Fasikulasi
0
0
0
0
0

0
0
0
Salivasi
0
0
0
0
0

0
0
0
Lakrimasi ↑
0
0
0
0
0

0
0
0
Air mata berdarah
0
0
0
0
0

0
0
0
Konvulsi
0
0
0
0
0

0
0
0
Urinasi
2
0
0
0
0

0
2
24
Diare
0
1
1
0
0

0
2
6
Temperature rectum ↓
1
1
1
1
0

1
5
6
Pupil mengecil
0
0
0
0
0

0
0
0
Pupil melebar
0
0
0
0
   0
0
0
0


SBT = 11
SMT =
37,5











% EFEK PARASIMPATOMIMETIK = SBT/SMT X 100%
                                                    = 11/37,5 X 100% = 35%

V. STIMULASI SISTEM SARAF PUSAT
Parameter
5’
10’
15’
30’
60’

120’
Skor total
Skor maksimal
Fasikulasi
0
0
0
0
0

0
0
0
Tremor
1
0
0
0
0

0
1
6
Respirasi ↑
0
0
0
0
0

0
0
0
Gerak berputar
0
0
0
0
0

0
0
0
Ekor bergelombang
0
0
0
0
0

0
0
0
Agresif
1
0
0
0
0

0
1
6
Rasa ingin tahu ↑
1
1
1
0
0

0
3
6
Konvulsi
0
0
0
0
0

0
0
0
Temperature rekctum ↑
0
0
0
0
2

0
2
12
Tonus tubuh turun
0
0
0
0
0

0
0
0
Aktiv. Motorik meningkat
1
0
0
0
0
0
1
6


SBT = 8
SMT = 36












% EFEK STIMULASI SSP = SBT/SMT X 100%
                                                    = 8/36 X 100% = 22,22%

VI. VASOKONTRIKSI
Parameter
5’
10’
15’
30’
60’
120’
Skor total
Skor maksimal
Ekor pucat
2
2
2
2
2
2
12
24


SBT= 12
SMT= 24
% EFEK ANALGETIK  = SBT/SMT X 100%
                                         = 12/24 X 100% = 50%

VII. SIML
Parameter
5’
10’
15’
30’
60’
120’
Skor total
Skor maksimal
Konvulsi
0
0
0
0
0
0
0
0
temperature rectum ↓
1
1
1
1
0
1
5
6
pupil mengecil
0
0
0
0
0
0
0
0


SBT = 5
SMT = 6










% EFEK SIML = SBT/SMT X 100%
                     = 3/5 X 100% = 83,33%


-          Pembahasan :
Praktikum kali ini adalah tentang skrining hipokratik, yang berfungsi untuk menapis suatu obat/bahan yang belum diketahui sebelumnya. Dalam praktikum ini digunakan hewan percobaan yaitu, Mencit. Langkah pertama mencit ditimbang dan dihitung dosisnya. Kemudian diberikan obat melalui Intraperitoneal.
Aktivitas obat dilihat dalam interval waktu 5 menit, 10 menit, 15 menit, 30 menit 60 menit dan 120 menit. Aktivitas diamati berdasarkan beberapa parameter yang telah ditentukan.
Obat yang diberikan berdasarkan  VAO dengan berat badan mencit 19gram yaitu sebanyak 0.19 ml dan disuntikkan melalui intraperitonial. Dan dari pengamatan didapatkan efek yang ditimbulkan dari obat yaitu sebagai Penstimulasi sistem syaraf pusat, relaksasi otot, simpatomimetik, parasimpatomimetik, stimulasi sistem syaraf pusat, vasokonstriksi, dan simpatolitik.
Dan setelah diketahui aktifitas yang diamati berdasarkan parameter didapat %aktifitas dari obat ini yaitu Penstimulasi sistem syaraf pusat(65%), relaksasi otot(62%), simpatomimetik(48,14%), parasimpatomimetik(35%), stimulasi sistem syaraf pusat(22,22%), vasokonstriksi(50%), dan simpatolitik(83,33%)
Dan dari data diatas dapat disimpulkan bahwa obat ini banyak memiliki efek dan salah satunya efek yang paling besar besar ditimbulkan yaitu efek simpatolitik yaitu sebesar 83.33% lalu setelah itu penstimulasi sistem syaraf pusat yaitu dengan persentase 65%.
Ketidakakuratan hasil yang diperoleh mungkin saja terjadi dalam percobaan ini dikarenakan kesalahan-kesalahan yang terjadi, mungkin disebabkan karena pengamatan dari efek terapi mencit yang subjektif, agak susah untuk dapat menentukan apakah terjadi perubahan signifikan pada mencit. Selain juga dikarenakan keterbatasan alat yang tersedia. Mencit tersebut juga mungkin saja kurang memberikan efek terapi yang seharusnya ada oleh karena sifat mencit yang agak resisten.

VI.             Kesimpulan
Dari praktek diatas dapat di simpulkan bahwa:
·         Skrining hipokratik adalah salah satu cara untuk menapis aktivitas suatu obat/bahan yang belum diketahui sebelumnya, baik yang berasal dari alam ataupun senyawa sintetis/semisintetis.
·         %aktifitas dari obat ini yaitu Penstimulasi sistem syaraf pusat(65%), relaksasi otot(62%), simpatomimetik(48,14%), parasimpatomimetik(35%), stimulasi sistem syaraf pusat(22,22%), vasokonstriksi(50%), dan simpatolitik(83,33%)
·         Dan dari data diatas dapat disimpulkan bahwa obat ini banyak memiliki efek dan salah satunya efek yang paling besar ditimbulkan yaitu efek simpatolitik yaitu sebesar 83.33% dan yang paling rendah yaitu stimulasi sistem syaraf pusat yaitu 22.22%.


VII.          Jawaban Pertanyaan
1.         Apa beda skrining buta dan skrining spesifik?
Jawab :
Skrining buta adalah program skrining terhadap senyawa baru yang tidak diketahui aktivitas farmakologinya. Sedangkan skrining spesifik adalah program skrining yang dilakukan pada senyawa yang telah dapat diperkirakan khasiatnya.

2.         Apa kelebihan metode skrining hipokratik dibandingkan dengan skrining spesifik? Apa pula kelemahannya?
Jawab :
a.       Kelebihan
o  Caranya sederhana dan peralatan yang digunakan relative murah.
o  Aktivitas bahan/obat yang diuji dapat diketahui dengan cepat.
b.      Kekurangan
o  Dalam pengamatannya sedikit rumit karena waktu pengamatan membutuhkan waktu yang singkat (5 menit) sedangkan parameter yang diamati banyak.

3.         Apakah toksisitas bahan obat dapat diramalkan menggunakan cara skrining ini? Jelaskan.
Jawab :
Bisa. Karena dari skrining hipokratik ini diperoleh seberapa besar aktivitas dari berbagai kriteria yang diamati. Bila pada skrining hipokratik ini pada dosis yang besar dapat memberikan efek yang sangat berlebihan, maka bisa dinyatakan berefek toksik.

4.         Jelaskan tahap-tahap penelitian yang harus dilalui untuk suatu obat baru agar dapat digunakan secara klinis?
Jawab :
Pengembangan dan penilaian obat ini meliputi 2 tahap uji :
1.    Uji Praklinik
Serangkaian uji praklinik yang dilakukan antara lain :
a.    Uji Farmakodinamika
b.    Uji Farmakokinetik
·      Untuk mengetahui ADME
·      Merancang dosis dan aturan pakai.
c.    Uji Toksikologi
·      Mengetahui keamanannya
d.   Uji Farmasetika

2.      Uji Klinik
Uji dilakukan pada manusia. Dibagi menjadi 4 Fase :
a.       Uji Klinik Fase I
Fase ini merupakan pengujian suatu obat baru untuk pertama kalinya pada manusia.
b.    Uji Klinik Fase II
Pada fase ini dicobakan pada pasien sakit.
c.     Uji Klinik Fase III
- Pada manusia sakit, ada kelompok kontrol dan kelompok pembanding
- Cakupan lebih luas baik dari segi jumlah pasien maupun keragaman (misal : intra ras)
-   Setelah terbukti efektif dan aman obat siap untuk dipasarkan
d. Uji Klinik Fase IV
- Uji terhadap obat yang telah dipasarkan (post marketing surveilance)
- Mamantau efek samping yang belum terlihat pada uji-uji sebelumnya

5.         Jelaskan hubungan parameter-parameter yang diamati dengan jenis aktivitas-aktivitas yang ditentukan.
Jawab :
·         Piloerection atau bulu mencit berdiri menunjukkan adanya kompensasi temperatur yang rendah atau aktivitas simpatomimetik.
·         Skin colour atau warna kulit khususnya daun telinga, bila berubah dari merah muda menjadi merah maka menunjukkan adanya vasodilatasi akibat pengaruh simpatolitik. Warna putih menunjukkan vasikontriksi karena pengaruh simpatomimetik.
·         Heart rate yaitu detak jantung dapat dipercepat oleh aktivitas parasimpatomimetik dan dapat diperlambat oleh depresan pernafasan dan SSP, khususnya pada dosis tinggi.
·         Ukuran pupil dibandingkan antara sebelum dan sesudah diberi obat. Pelebaran pupil menandakan bahwa hewan terpengaruh obat para simpatolitik atau simpatomimetik.




Daftar Pustaka
Nurmeilis, dkk. 2009. Penuntun Praktikum Farmakologi. Program Studi Farmasi FKIK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Katzung, Bertram G, (2004), Basic & clinical pharmacology, 9th Edition, Lange Medical Books/Mcgraw-Hill: New York, Hal : 6, 152 (e-book version of the text).
Anonim. 1995. Farmakologi dan Terapi ed.4. Jakarta: Bagian Farmakologi Fakultas  Kedokteran Universitas Indonesia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar